Udah lama gak nonton tivi, males, soalnya yang dibahas itu-itu doang. BBM terus. Semua stasiun tivi memberitakan tentang rencana kenaikan BBM. Kenaikan BBM ini ditentang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang sebagian besar, katanya, berekonomi kurang mampu.
Ketika gue mendengar BBM, khususnya Premium, akan dinaikan menjadi Rp6000,-/liter, gue kaget. Gimana gak kaget, kalo biasanya gue beli premium (gue naik motor) Rp10.000,- gue bisa dapet 2 liter-an lebih (biasanya 2 liter ini bertahan 3 hari, rumah gue jauh dari kampus soalnya), kalo dinaikin cuma dapet 1,75 liter kurang lebih. Sedih.
Awalnya gue sempet ikut panas dengan isu kenaikan BBM bersubsidi ini. Gue malah sempet berniat buat ikut demo serentak di seluruh Indonesia tanggal 27 Maret kemaren, menolak kenaikan BBM bersubsidi. Dari tanggal 25 Maret, ketika gue tahu akan ada demo besar-besaran lusanya, gue udah berniat buat ikut. Tapi sebelum hari-H itu dateng, gue berubah pikiran.
Sebelum ikut demo, gue sempet berpikir. Hal apa yang mendasari pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi, khususnya premium? Gue buka twitter, gue baca timeline dan membaca beragam opini orang-orang seputar kenaikan BBM. Ada yang tidak setuju, dengan alasan mereka, katanya, gak mampu. Ada juga yang setuju, dengan alasan, Indonesia masih sanggup membeli premium dengan harga Rp6000,-/liter.
Gue berpikir, iya, ya. Indonesia masih sanggup. Sebelum dinaikan premium pun, dengan ekonomi yang semrawut, rakyat Indonesia masih mampu mempertahankan gaya hidup mereka, yang gue pikir, cukup 'wah'. Kenapa gue bilang 'wah'? Gimana gak 'wah', mereka bilang enggak mampu, tapi bisa beli motor satu-satu. Mereka bilang gak mampu, tapi masih sanggup beli hape yang bagus, dan lain sebagainya.
Selain itu, gue memutuskan setuju premium dinaikan setelah googling, mencari tahu seputar isu kenaikan BBM. Indonesia, seperti yang kita tahu, dilimpahi dengan kekayaan alam, khususnya minyak bumi yang banyak. Tapi sebenarnya, sejak 2003 (kalo gak salah), Indonesia berubah menjadi negara pengeksor minyak bumi menjadi pengimpor, karena gak sanggup mencukupi kebutuhan dalam negeri. Tahun 2008, Indonesia keluar dari OPEC (Negara-negara pengekspor minyak bumi). Indonesia mencukupi kebutuhan dalam negeri, dengan mengimpor dari luar, dan berhutang. Seandainya premium gak dikurangi subsidinya, maka keuangan negara akan semakin terpuruk dan hutang akan semakin bertumpuk.
Huh, tarik napas dulu.
Masih banyak alasan kenapa gue setuju premium dinaikan. Tapi gue capek nulisnya dan yaa, gitulah.
Sebenernya dari awal gue udah bilang sama diri gue, bahwa gue akan membahas politik dan agama di blog gue, karena gue memang cuma ingin membagikan kebahagiaan lewat tulisan-tulisan gue yang ngawur. Postingan ini terjadi setelah gue melihat orang-orang yang gak tau apa-apa, tidak berlatar belakang pendidikan di bidang ekonomi, tapi sok-sok tau dan menentang tanpa mencari tahu dahulu sebelumnya. Mereka gak tau bahwa sebenernya mereka ikut menyumbang kekacauan ini. Kemana-mana bawa mobil pribadi, padahal mampu tapi pake premium, dan sebaginya.
Gue harap tulisan ini berguna bagi kita semua. Semoga kita tersadar dan gak ikut-ikutan latah, orang gak setuju ikut gak setuju, tanpa mencari tahu sebelumnya. Daripada kita sibuk memprotes, lebih baik kita mencari solusi untuk kita semua.



0 comments:
Post a Comment