Tidak banyak perubahan dari hari sebelumnya. Kalaupun ada tapi gak signifikan, gak penting, gak guna. Atau, sebenarnya memang ada perubahan yang signifikan, yang penting, dan yang berguna, tapi hati menaruhnya dalam label yang salah?
Pemandangan favorit gue masih plafon yang menguning di kamar. Kadangkala berganti dengan pemandangan di luar jendela. Tapi sebenarnya semuanya sama. Semua pemandangan itu semuanya tampak gak jelas, tampak ngeblur, berbayang. Kenangan di kepala tampak lebih jelas.
Entah kenapa setelah putus, kenangan-kenangan beserta detil-detil kecil -- yang indah sekaligus kadang bikin jengkel -- menjadi lebih terlihat. Seperti diletakkan di bawah mikroskop, diperbesar hingga seribu kali. Bikin resah.
Tapi kali ini, biarlah dulu gue memejamkan mata. Biar semuanya tampak jelas. Biar gue tau maunya apa.
Gue ingat kembali pertama kali menonton film di bioskop itu. Entah kenapa hari itu gue memilih film action, padahal sebenarnya gue tahu cewek lebih suka film romantis. Itulah yang terjadi kalau engkau gugup, bikin gagap. Dan entah kenapa hari itu gue memilih kursi di pinggir, bukan di tengah. Uh, gue merasa sebagai pervert yang idiot hari itu.
Sepanjang film diputar, gue sangat tidak fokus dengan filmnya. Sesekali gue melirik ke dia dan berharap ia suka dengan filmnya. Sesekali juga gue melirik hanya untuk mendapatkan penglihatan yang lebih jelas, tentang figur mukanya, cara ia menopang dagunya dengan tangan. Atau cara ia menyibakkan rambutnya kebelakang dengan gerakan khas sejuta umat wanita. Anggun. Betapa gue begitu gugup hari itu.
Lalu gue membuka mata dan tertawa. Menertawakan diri gue yang gugup hanya dengan duduk di sebelah dia dan menertawakan tentang betapa gue baru sadar, dia begitu manis hari itu.
Lalu tiba-tiba gue tersadar, hal tersebut gak akan pernah kejadian lagi. Mendadak menenggelamkan wajah ke bantal lebih menyenangkan dari apapun.


0 comments:
Post a Comment