Hari Ke-30 : Pigura

by 12:38 PM 0 comments
Hari ini gue berkali-kali narik nafas panjang sambil beresin kamar yang udah gak karuan ini. Rasanya udah lama sekali kamar ini gak dihuni, dan penghuni sebelumnya anak kecil yang mainannya banyak. Udah debuan, barang-barang bertebaran kek lagi obral pasar loak.

Kalo lagi kek gini, jadi keinget iklan yang 'ada barang tidak berguna? Jual saja!'  Barang-barang gak penting, tapi sayang dibuang menuhin kamar tapi kadang-kadang pengen diliat lagi tapi ngeselin udah terlalu banyak. Manusia. Barang-barang yang kek gini, sampah penuh memori.

Selagi beresin kamar, gue narik nafas panjang karena sebulan ini rasanya gue sesak, dan hari ini rasanya baru kerasa lega, sedikit. Sehingga narik nafas panjang serasa minum es dogan ketika dengkul udah kelampau kopong. Bikin kuat lagi, seger lagi.

Dan selagi membereskan -- lebih tepatnya menyempilkan -- semua barang ke dalam lemari kecil, yang nanti kalo dibuka bakal melemparkan berbagai benda yang berbahaya bagi muka, gue ngeliat ke arah pigura besar yang di dinding depan gue.


Pigura besar itu adalah hadiah ulang tahun gue dari dia -- masih ingetkan dengan dia? -- yang tentu saja ada isinya. Isinya adalah poto-poto dia dengan tulisan-tulisan 'happy birthday' 'selamat' 'ulang tahun' 'my dear' dan yang lainnya, yang disusun sedemikian rupa sehingga jadi kalimat lengkap. Gak terlalu wah, tapi gue selalu senyum kalo ngeliat hadiah ini.

Gue masih inget ketika gue ulang tahun hari itu. Hari itu gue udah kecewa karena patjar gue sendiri belum memberikan surprise ulang tahun, sedangkan gue udah diceburin 4 kali ke kolam. Gak ada dari dia. Agak sedih dikit. Setelah selesai, gue pulang dan mandi lalu termenung. Setengah jam melamun-melamun bego, gue dapet sms dari kakak gue yang minta jemput dari kantor, tanda bahwa hari udah jam setengah 6, sudah mau malem. Yang artinya, dia gak bakal dateng, karena dia gak boleh keluar malem. Gue keluarin motor dan gue pergi jemput kakak gue.

Sewaktu dijalan pun gak ada satu omongan kakak gue itu yang masuk ke gue. Serasa ada template yang cuma bisa jawab 'oh' 'he-eh' 'iya'. Berulang-ulang, sampe kakak gue bosen sendiri.

Sewaktu hendak memarkirkan motor di halaman rumah, kakak tertua gue keluar rumah dan bilang ke gue, "ada temen kamu tuh, ke rumah sebelah kayaknya." Gue bingung siapa dan gue dengan gontai ke rumah sebelah. Dan gue ngeliat dia dan temen-temennya lagi sembunyi, tapi mereka gak sadar bahwa gue lagi ngeliat mereka. Gue tegur dia, dan dia kaget. Yaiyalah kaget, niat mau ngasih surprise malah gagal. Haha. Gue senyum-senyum puas banget hari itu.

Akhirnya gue ajak mereka masuk ke dalem dan setelah perayaan kecil yang buru-buru, dia memberikan hadiah ini. Dia gak bisa lama-lama karena hari itu sudah mau magrib. Sambil tetap manyun sedikit, karena kejutannya gagal, dia pamit pulang karena udah mau magrib. Rasanya pengen gue tahan dan gue pengen ngobrol bedua sampe bosen sama dia. Tapi gue tau dia bakal kena masalah.

Ah. Senyum-senyum sendiri, sesuatu yang, selain debu, yang kita dapet dari merapikan kamar. Asik juga.

Kalo dipikir-pikir, dalam sebulan ini gue berubah. Setelah melalui banyak hal kayak rasa ingin ngoprek koreng yang kebuat karena putus, ketika gue nginget ketika 'gue' dan 'dia' jadi 'kita', hari dimana rasanya gue frustasi bertumpuk, ketika nginget lagi, ketika mati rasa lagi dan gak kuat lagi, ketika rasanya waktu rasanya gak kelacak lagi, ketika akhirnya mata udah mulai kebuka, ketika ngoprek-ngoprek isi kepala lagi, dan ketika rasanya gue berpikir terlalu jauh.

Walaupun rasanya awal-awal putus rasanya isi kepala mau pecah, tapi ada hari yang rasanya semua jadi lebih tenang, lambat, tenang. Kadang gue mikir, gimana posisi orang yang berada di posisi gue waktu itu, sampai hari dimana rasanya nasehat dari teman rasanya udah gak ada gunanya.

Kadang-kadang gue masih sering berharap lagi, dan teman-teman gue sudah bosan mendengar cerita gue yang gitu-gitu aja, tentang panggilan sayang, tentang film yang gue rasa mewakili gue, atau tentang gue yang menyadari, seandainya gue pemeran utama dan hidup ini fiilmnya, ini baru sampai ditengah.


Lalu ada momen-momen ketika rasanya ingin tahu apa yang sedang dia lakukan ketika gue gini, lalu akhirnya sakit hati sendiri. Lalu momen bahwa gue harus mempraktekan hal baru, melakukan hal yang baru, selain ngepoin orang-orang putus di social media.

Tapi tetap ada momen-momennya ketika rasanya semua udah gak jelas lagi, udah terlalu samar-samar, sehingga gue kadang mencari memori yang lain untuk mengisi memori yang bolong, lalu drama lagi, yang ujung-ujungnya kembali duduk-duduk.

Lalu akhirnya ketika gue memutuskan untuk mencari yang baru, sesuatu yang selalu orang katakan agar kita bisa lupa, sambil menghayal, sambil mikir, terlalu keras. Seperti biasa lah.

Lalu merasakan sesuatu yang sudah lama gak gue rasakan, deg-degan ketika ngeliat seseorang, yang bikin kaki rasanya gemetaran gak karuan. Walaupun akhirnya dihempaskan oleh nama pacar di bio-nya. Ngenes.

Tapi gue bersyukur. Gue menjadi dewasa, menjadi sesuatu yang baru, yang lama yang telah di upgrade, jadi seseorang yang rasanya bisa memandang sesuatu dari persepektif yang lain, dari kacamata orang lain. Memakai sepatu orang lain.

Yah, walaupun gagal mendapat penghuni yang baru, setidaknya gue mendapatkan hobi-hobi baru, sesuatu yang kalau gue gak ngalamin musibah dulu, gak bakal bisa gue coba, sampe mati mungkin. Move-on bukan sekedar punya yang baru kan? Bisa kita liat dari teman-teman kita yang tetap mengingat mantannya, ketika menggandeng yang baru.

Gue pun rasanya setelah ini rasanya akan terus mengingat, terus tersenyum lagi, tapi tentu sambil berjalan. Tapi sambil tetap tidak mengharapkan untuk berbalik arah ke belakang.

Dan ketika memandang pigura ini, hadiah ulang tahun dari kejutan yang gagal, gue bisa bilang gue bersyukur. Bahwa selama ini gue mengalami sesuatu yang luar biasa, yang senang, sedih, marah, dan emosi-emosi berwarna lainnya.

Lalu perlahan gue turunkan pigura itu dari dinding dan gue simpan ke dalam lemari yang penuh sesak itu. Mungkin suatu waktu, pigura itu bakal meloncat, menghantam muka, ketika gue coba-coba buka kembali lemarinya.

Rahmanda Putra

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 comments:

Post a Comment